medina

Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Thursday, 27 September 2012

Wisata Bali: GWK (Garuda Wisnu Kencana)


GWK (Garuda Wisnu Kencana)







Arti dari GWK (Garuda Wisnu Kencana) adalah Burung Garuda Kendaraan Dewa Wisnu yang diambil dari cerita “garuda & kerajaannya” dimana rasa bhakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan dan  akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu . GWK terletak di atas dataran tinggi yang  berupa batu kapur padas tepatnya dekat Ungasan di kawasan Bukit Jimbaran dengan luas area GWK 250 hektar. Dari Denpasar hanya berjarak 25 km. Pemandangan yang di tawarkan wisata ini sangat mempesona serta alami karena bisa memandang kawasan wisata dipesisir selatan Bali. Pada malam hari bisa menikmati kerlap-kerlip lampu di bagian bawah kawasan wisata selatan Bali misalnya seperti Jimbaran, Benoa dan juga Kuta.
GWK Didesain oleh I Nyoman Nuarta, dengan tinggi dari patung tersebut 140 meter, mulai dibangun pada tahun 1997. Proyek pembangunan ini berhenti karena berbagai kendala, terutama dalam hal pendanaan. Patung yang baru selesai pembuatannya yaitu, Setengah badan Dewa Wisnu, Kepala Burung Garuda, Tangan Dewa Wisnu.
Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, hingga Nusa Dua , bahkan di prediksikan sampai pulau Madura/jembatan Suramadu. Oleh karena itu dari Provinsi Bali, rencana kedepan kawasan ini akan menjadi Landmark  bagi pariwisata Bali dan Indonesia pada umumnya.
Pembuatan GWK mempunyai maksud, diharapkan mampu menjadi symbol kebudayaan yang dapat menjaga keseimbangan alam semesta.
Didalam masyarakat hindu, dalam Tri Murthi-nya dimana Dewa Wisnu bertugas sebagai pemelihara alam semesta dan Burung Garuda sebagai kendaraan Dewa Wisnu merupakan symbol dari pengabdian yang tanpa pamrih.
Sehingga GWK diharapkan sebagai symbol dari Penyelamat Lingkungan.
                                                                                                                                  
Dari GWK obyek wisata selanjutnya yang bisa di tuju yaitu Dreamland, Uluwatu dengan pura dan Tari kecaknya

Di Kompleks lapangan GWK sering dipakai untuk konser/pertunjukkan music, atau launching sebuah perusahaan di Bali.  

Tempat ini juga sangat cocok untuk foto prawedding, ataupun untuk sekedar narsis seperti saya. Bahkan sering di buat untuk lokasi film serial FTV.
Saat saya kesana sedang ada pengambilan adegan sebuah film untuk FTV.





















Tuesday, 25 September 2012

Wisata Bali: Monumen Niti Mandala / Bajra Sandhi




 


Sepulang dari Pantai Sanur suasana masih pagi, kami melewati Lapangan Puputan Renon atau Lapangan Niti Mandala Denpasar.
Di tengah-tengah Lapangan Puputan Renon terdapat Museum Perjuangan Rakyat Bali/Monumen Bajra Sandhi. 
Disana tampak banyak orang berlari pagi atau berolah raga sambil menikmati  segarnya udara pagi hari.
Begitupula  Kami  tak ketinggalan menyempatkan diri  untuk menikmati taman public ini yang terletak ditengah kota Denpasar, tempatnya nyaman, segar, rapi,  murah, kami hanya dikenakan biaya untuk parkir motor –motor rental hotel - Rp. 1000,- 
Di dalam Monumen Bajra Sandi terdapat Museum, di dalam museum tersebut terdapat diorama sejarah perjuangan rakyat Bali dan miniatur perjuangan rakyat Bali  dalam menentang penjajah.
Kami tidak sempat masuk ke museum tersebut karena jam 10.00 kami harus sudah  siap di Hotel untuk ikut Tour wisata ke Bali Selatan. 
Jadi bagi anda yang sedang mengunjungi Pulau Dewata Bali terlebih bila anda menginap di Hotel sekitar Denpasar, ada obyek wisata alternative yang tak ada salahnya, untuk singgah di  Monumen ini.
Selain berwisata kita juga mengenang jasa – jasa para pahlawan yang telah gugur.
Karena Bangsa yang besar terlahir dari bangsa yang tak pernah melupakan jasa para Pahlawan.

Dari sumber yang Saya baca
Asal mula Monumen ini konon berasal dari ide Dr. Ida Bagus Mantra (mantan Gubernur Bali) pada tahun 1980. Kemudian diadakan lomba desain monumen tersebut, dan dimenangkan oleh Ida Bagus Yadnya, seorang mahasiswa arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana. 
Pembangunannya menghabiskan waktu selama 13 tahun, dimulai pada tahun 1988 dan selesai tahun 2001. Kemudian diresmikan dan dibuka secara umum pada bulan Juni 2003 oleh Presiden RI yang pada waktu itu dijabat oleh Ibu Megawati Soekarnoputri .
Lokasi monumen ini berada di depan Gedung kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali, luas tanah kurang lebih 138.830 meter persegi dan luas bangunan kurang lebih 4.900 meter persegi, dan merupakan tempat bersejarah untuk menghormati para pahlawan dan perjuangan rakyat Bali (Perang Puputan) yang telah gugur, sehingga generasi penerus anak cucu kita nanti selalu mengenang jasa–jasa mereka.

Bangunan Monumen ini mempunyai desain arsitektur yang sangat khas  Bali. Terbuat dari batu alam candi yang berwarna hitam –bukan dari semen/beton- di tambah sekeliling monumen  tersebut terdapat tumbuhan hijau, menambah cantik monument tersebut.
Bagi anda yang hobi  memfoto ataupun narsis di foto, sebaiknya tak melewati monumen  ini  karena sangat unik. Jadi kalau ke sini jangan lupa bawa kamera.. yak “kamera siap, action, cisssss”…..
Bali tak hanya dikenal akan keindahan pantai, pura, pasar tradisionalnya tapi ada juga bangunan monumen  yang mengingatkan kita untuk selalu menghargai jasa para pahlawan. Jadi tunggu apalagi silahkan ke Monumen Niti Mandala y a….



Sepulang dari Pantai Sanur, menyempatkan narsis di monumen puputan dulu

Cuci muka langsung Action






Add caption





Tuesday, 29 May 2012

Wisata Bali: Tari Kecak / Kecak Dance

 Tari Kecak / Kecak Dance di Ulu Watu

Berkunjung ke pulau Dewata Bali, belum lengkap kalo belum menyaksikan sunset di Pura Luhur Uluwatu dengan ditemani suguhan tarian khas bali yaitu tari kecak (kecak dance).
Pura Uluwatu ini terletak di desa Pecatu, ujung selatan kawasan perbukitan batu karang Kabupaten Badung sekitar 32 Km dari Denpasar.
Begitu pula adanya saya dan suami. Saya menyarankan bagi anda yang berkunjung ke Pulau Dewata Bali hendaklah menyaksikan pertunjukan tari tersebut sambil menyaksikaan terbenamnya sang surya di ufuk barat.

Tapi saat kami di sana dan menunggu saat-saat terbenamnya sang surya, kami kurang beruntung. Sang surya tampaknya malu – malu memperlihatkan keindahan warna semburat merahnya bila hendak masuk ke peraduannya.
Padahal hanya kurang beberapa saat lagi, ternyata di bawah telah terhadang oleh segerombolan awan yang saling bertautan dan bercengkerama, sehingga menghalangi kami yang hendak menyaksikan saat-saat sang surya turun di ufuk barat.






Kecak Dance / Kecak Dance

Sebuah tarian tanpa diiringi alunan alat musik apapun, hanya mengandalkan suara yang di keluarkan dari mulut manusia/penarinya sekitar 70 orang.-lebih mirip suara cakk... cakk....cakkkk.... saling bersaut- sautan. Tarian ini merupakan tarian yang berasal dari tarian sakral (Sang Hyang). Pada awalnya tari Sang Hyang seorang yang kemasukan roh, berkomunikasi dengan para dewa (leluhur yang di sucikan), dengan perantara penari sebagai penghubung sehingga dewa dapat menyampaikan sabdanya. Baru kemudian pada tahun1930-an tarian ini disisipkan cerita epos Ramayana, yang mengisahkan cerita dari rama dan shita beserta hanomannya.

Cerita ini berkisah, berawal dari Dewi Kakayi (Ibu Tiri ) Sri Rama -Putra mahkota syah dari kerajaan Ayodya- yang mempunyai watak jahat sehingga Sri Rama diasingkan dari istana ayahnya-Prabu Dasarata-.  Sri rama di buang di hutan ditemani adik laki-lakinya -Laksmana-, beserta isteri-Dewi Shita-

Rama dan Dewi Shita pergi ke hutan Dandaka. Keberadaan mereka di hutan diketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) yang terkenal sebagai raja yang kejam, lalim dan keji. 
Rahwana tertarik oleh kecantikan Dewi Shita, dan berencana untuk menculiknya.
Di bantu oleh patihnya Marica, Marica dengan kesaktiannya berubah menjadi kijang yang cantik, elok dan lincah berusaha untuk menarik perhatian Rama dan Shita untuk memisahkan keduanya.
Rama dan Dewi Shita



Rama dan Dewi Shita di Hutan Dandaka


Rama dan Dewi Shita dengan latar belakang Sang surya yang turun di ufuk barat


Laksmana menemani Dewi Shita, karena Rama meninggalkan Dewi Shita untuk menangkap kijang.


Terdengar jeritan meminta tolong, menurut Dewi Shita itu suara Rama. Lalu meminta Laksmana untuk mengecek keberadaan Rama.

Dalam hati Laksaman enggan untuk meninggalkan Shita seorang diri. Selain itu juga Laksmana mendapat amanat dari Rama untuk menjaga Shita.
Tetapi Dewi Shita menuduh Laksmana hendak mengambil keuntungan atas kematian Rama, sehingga Laksmana naik pitam, dan segera pergi meninggalkan Dewi Shita seorang diri di hutan

Rahwana datang hendak menculik Dewi Shita

Rahwana muncul hendak menculik Dewi Shita, tetapi tak berhasil

Dengan akal jahatnya Rahwana berubah wujud menjadi Bhagawan (orang tua) yang sedang kehausan dan meminta diambilkan air minum oleh Dewi Shita, setelah diambilkan air minum kemudian Dewi Shita dibawa lari oleh Begawan tersebut yang tak lain adalah Rahwana yang sedang menyamar.
Dewi Shita kemudian menjerit meminta pertolongan, kemudian jeritan Dewi Shita tersebut terdengar oleh burung Garuda yang sedang terbang.
Burung garuda lalu menolong Dewi Shita, akan tetapi usahanya tak berhasil karena sayapnya putus ditebas oleh Rahwana.
 Dewi Shita kemudian di bawa menuju ke Alengka Pura oleh Rahwana

Dewi Shita di Alengka Pura

Rama dan Laksmana tersesat di hutan Dandaka. Mengetahui isterinya Dewi Shita ditawan oleh raksasa jahat Rahwana, Rama meminta tolong Hanoman (si kera putih) untuk menyelamatkan Dewi Shita yang berada di Alengka Pura. Kemudian Rama menyerahkan cincinnya kepada Hanoman untuk di serahkan pada Dewi Shita.
Hanoman segera pergi ke Alengka Pura untuk menyelamatkan Dewi Shita

Dewi Shita menyerahkan bunga kepada Hanoman

Dewi Shita menyerahkan bunga kepada Hanoman untuk diberikan kepada Rama sambil menitipkan pesan untuk Rama agar segera menyelamatkan dirinya.

Hanoman menuju tetamanan Alengka dan memporak-porandakan tempat tersebut sampai hancur. Membuat abdi Alengka pura terkejut dan marah, dan menyuruh para raksasa untuk menangkap Hanoman.
Karena jumlah lawannya tak sepadan lebih banyak raksasanya, sedangkan Hanoman hanya seorang diri akhirnya Hanoman bisa tertangkap. Kemudian Hanoman diikat dan di bakar.
Karena kesaktian dari Hanoman, maka dia bisa meloloskan diri dari maut.


Hanoman bisa lolos dari kobaran api

Akhirnya Hanoman berhasil mengalahkan bala raksasa Rahwana, Rama berhasil merebut kembali isterinya Dewi Shita dengan  selamat.
 




Diceritakan ulang dari berbagai sumber.  


Itulah sekelumit kisah dari Tari kecak/kecak dance
 
Untuk bisa menyaksikan tarian ini hanya di kenakan biaya Rp. 70.000 per orang (untuk harga wisata local) dan biaya masuk ke Pura Uluwatu per orang Rp. 10.000,-
Sebaiknya sampai di lokasi Uluwatu sore hari  pada jam 16.00 WITA, sehingga masih ada waktu untuk menikmati keindahan Uluwatu dan mengabadikan keindahan dengan berfoto-foto.
Kemudian jam 17.00 WITA bersiap membeli tiket pertunjukkan dan memasuki tempat pertunjukkan yang berbentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk yang berjenjang mirip opera kecil di area terbuka



 
Jika datang lebih awal, masih dapat mencari tempat duduk yang strategis,  menghadap ufuk barat / sunset dan pura Uluwatu.


Tiket masuk tari kecak



Deskripsi  sekilas tentang Pura Uluwatu, didirikan  sekitar abad XI oleh Empu Kuturan. Pemandangan alam perbukitan batu karang yang berbatasan langsung lautan lepas. Dan di dalam hutan terdapat ratusan kera yang menempati hutan tersebut.